Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
LPSE
logo ditjenak
Logo Statistik
Karantina
Wbs
Jitv
Wartazoa
Sms center
PPID

Produk Teknologi

Kabalitbangtan : “bisa dikatakan inovasi kalau invensi sudah dikomersialisasikan atau digunakan secara massal di masyarakat” PDF Cetak E-mail
Rabu, 12 Agustus 2020 19:02

Ciawi - Dalam rangka arahan penyusunan renstra Puslitbangnak 2020-2024, Kepala Badan Litbang Pertanian didampingi oleh Sekretaris Badan (Sesba) melaksanakan kunjungan kerja ke Balitnak Ciawi, Rabu (12/08/20). Acara bertempat di Auditorium Balitnak, dihadiri oleh Kepala Puslitbangnak Dr. drh. Agus Susanto, M.Si., Kepala Balitnak Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, Dr. Ir. Atien Priyanti, M.Sc., Dr. Eko Handiwirawan, DR. Andi Saenab, Para Pejabat Struktural Balitnak dan Para Peneliti Balitnak.  Selain itu diikuti secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting oleh Balai Besar Penelitian Veteriner, Loka Penelitian Kambing Potong dan Loka Penelitian Sapi Potong.

Kepala Balitnak dalam sambutannya mengucapkan terima kasih yang sebesarnya, karena walaupun dilakukan refocusing anggaran, tetapi Balitnak tidak sampai harus merumahkan para pegawai Honorer maupun UHL/THL. Balitnak sendiri memiliki pegawai honorer sebanyak 60 orang dan tenaga UHL/THL sebanyak 80 orang. Harapannya pada tahun depan masih mendapatkan dukungan anggaran untuk mempertahankan para pegawai tersebut. Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa tahun ini Balitnak akan kehilangan 28 pegawai yang memasuki masa purna tugas, terutama para teknisi dan laboran yang selama ini mendukung para peneliti. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap formasi pegawai Balitnak.

”Mohon Kepala Badan untuk tetap memotivasi para peneliti kami untuk tetap menjadi kompetitor yang handal di era PRN ini” tuturnya. Para peneliti kita masih mampu bersaing dengan para peneliti dari Lembaga lain di era PRN ini. Selain itu dimohon Motivasi dari Kabalitbangtan untuk peneliti bisa segera naik ke jenjang profesor.

“Profesi peneliti ini sangat mulia, karena ditangan, fikiran, dan karyanya dalam memecahkan permasalahan khususnya dibidang peternakan, baik itu kesehatannya maupun budidayanya,” kata Kapuslitbangnak Dr. drh. Agus Susanto dalam sambutannya. Jadi peneliti memiliki pahala yang terus menerus, karena karya-karyanya akan terus dipakai oleh generasi selanjutnya. “Karya kita lebih Panjang umurnya dibanding umur biologis kita,” tambahnya.

“Kalau meminjam istilah Adam Smith, kemajuan itu karena kreativitas, kreativitas karena ada kebebasan, tapi saya garis bawahi kebebasan yang teratur, yang regular, yang terarah,” tuturnya.

Produk-produk kita sebenarnya sudah baik, hanya marketing dan dijual keluarnya harus ditingkatkan. Sudah dilakukan konsolidasi aplikasi-aplikasi seperti Smart Feed, Takeshi atau produk-produk aplikasi lainnya yang terus dikembangkan, karena pengembangan tidak pernah mengenal kata berhenti. Diharapkan dari Balitnak dan Lolit membuat FGD-FGD, sehingga nantinya dapat menghasilkan inovasi yg "meledak".

Kabalitbangtan menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh Keluarga Besar Puslitbangnak (Kapus, Kabalai, Kalolit dan para Peneliti) atas capaian yang sudah dihasilkan. Salah satunya Ayam KUB yang sudah berkembang dari Sabang sampai Papua, hal ini menjadi indikator hasil riset tidak hanya dalam buku atau jurnal, tetapi telah digunakan oleh masyarakat. Hal ini harus terus didorong, agar semua capaian kita bisa dimanfaatkan oleh seluruh petani dan peternak di Indonesia.

Walaupun tahun 2019 dilakukan refocusing anggaran, keluarga besar Puslitbangnak masih tertolong dengan menjadi leading sektor Penelitian PRN Unggas dan Sapi. Ini menandakan bahwa Badan Litbang masih diberi kepercayaan. Lembaga riset Perguruan Tinggi mengakui sumber daya dan fasilitas yang kita miliki. Kalau bicara Litbang Riset pertanian, maka Badan Litbang Pertanian harus menjadi leading sector. Karena memiliki unit kerja (65 UK) yang sangat banyak dan lengkap. Balitbangtan memiliki unit kerja di setiap provinsi di Indonesia.

“Dari 600 inovasi teknologi  yang telah dihasilkan, sekarang sudah mencapai 700 inovasi teknologi pertanian, harus didorong tidak hanya ada dibuku atau di UPT, karena kalau bicara inovasi adalah perkalian antara invensi dan komersialisasi. Jadi bisa dikatakan inovasi kalau invensi sudah dikomersialisasikan atau digunakan secara massal di masyarakat. Hasil riset yang penggunaannya masih terbatas, secara parsial belum dikatakan inovasi, tapi masih invensi. Dari sekian banyak yang dihasilkan yang mana saja sudah berkembang di masyarakat, digunakan industry dan sebagainya” tutur Kabalitbangtan.

Di tanaman padi atau tanaman pangan kita bisa berbangga, karena padi sudah diatas 90%, kedelai sudah 94%, jagung 30% sekarang sudah mencapai 50%, varietas unggul yang ditanam di seluruh Indonesia adalah hasil karya peneliti Balitbangtan. Yang lain belum, tetapi untuk ayam KUB sudah bisa diakui, karena sebarannya sudah mencapai hampir seluruh provinsi, diperkirakan 10% dari populasi ayam kampung.

Kedepan harus terus didorong Litbang tidak hanya menghasilkan invensi, tetapi terus dikawal sampai ujungnya. Pada saat membuat RPTP sudah harus diketahui kemana produk tersebut akan dikembangkan.

Ayam KUB 2 yang memiliki potensi menghasilkan 200 butir telur per tahun, harus dipetakan akan dikembangkan dimana. Begitu juga dengan komoditas lainya, jadi outcome nya harus sudah jelas akan dimana. Termasuk menghitung kontribusi terhadap sektor pertanian.

Balitbangtan juga sudah berencana untuk mengakomodir penganggaran untuk memasukan hasil karya peneliti di Jurnal Internasional, mengingat biayanya yang cukup mahal. Mudah-mudahan kalau bisa dilakukan menjadi motivasi bagi teman-teman peneliti, karena sudah ada wadahnya.

Target-target riset badan litbang yaitu PRN bersama Kementerian/ Lembaga/ Perguruan Tinggi, plasid Kementerian Pertanian yang akan mensupport semua target riset Kementerian Pertanian, Plasid Litbang, mungkin akan ada irisan riset dengan program strategis Kementerian Pertanian.

Tahun depan Litbang akan membuat riset kolaboratif. Mengharuskan beberapa persen dari riset tidak dikerjakan unit kerjanya masing-masing, tetapi bersinergi paling tidak dengan internal Litbang, kalau boleh bisa berkolaborasi dengan mitra, Perguruan Tinggi atau Lembaga riset lainnya yang punya kemampuan dan kapasitas bisa mensupport riset Balitbangtan, termasuk kerjasama dengan industri.

Untuk mendapatkan dukungan dari stakeholders salah satunya parlemen, maka kita harus lebih aktif mempublikasikan apa yang sudah dikerjakan, termasuk dengan menggunakan media sosial. Gunakan channel-channel yang bisa mengekspos Badan Litbang, sehingga kedepannya bisa mendapatkan dukungan penganggaran yang lebih baik, karena sekarang masih dianggap kurang kontribusinya. Dukungan dari peneliti, maupun fungsional lainnya termasuk tenaga administrasi sangat diperlukan. Peneliti tidak cukup hanya melakukan riset saja, tetapi harus punya tanggung jawab agar dikenal publik termasuk pemangku kebijakan. Selain melaksanakan riset, peneliti wajib menyampaikan hasil penelitiannya ke publik sehingga teknologi yang akan dihasilkan sudah ditunggu masyarakat. Kepala Satker, peneliti mempunyai tugas untuk mengedukasi para pegawai mulai dari SATPAM, OB, dan tenaga administrasi agar mengetahui apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh UK/UPT. Karena semua menjadi bagian dari keberhasilan kinerja. Walaupun kita belum terbiasa berkomunikasi dengan publik tentang apa yang dihasilkan, contoh eucalyptus yang tayang di semua stasiun TV.

Balitbangtan akan membuat program Jelajah Inovasi di Metro TV, untuk mempublikasikan inovasi-inovasi, sehingga lebih dikenal oleh publik. Karena Litbang punya ratusan inovasi, tetapi terkesan diam, orang lain yang hanya punya 1 tetapi ramai. Dianggap tidak bekerja dan tidak punya apa-apa. Kalau tidak dikenal dianggap tidak berhasil. Bahkan Menteri menyampaikan tidak akan melaunching produk, kalau barangnya tidak ada di lapangan

Kondisi saat ini, peneliti harus selalu berkompetisi, outcome harus jelas seperti apa. Balitbangtan memiliki banyak asset tak berwujud Semua hasil riset yang dibiayai oleh negara, harus diserahterimakan Kembali ke negara tidak untuk disimpan masing-masing peneliti

Tahun ini Litbang punya tugas yang cukup besar, mengawal Food Estate di Kalimantan Tengah. 30.000 hektar Denfarm yang dikelola Litbang 2 x 1000 hektar. Disitu akan dikembangkan food estate, termasuk dari peternakan.

Selain itu Balitbangtan juga akan segera membuat BLU (Badan Layanan Umum), yang merupakan gabungan riset dan komersialisasi, sehingga bisa segera dimanfaatkan secara maksimal, tidak seperti PNBP yang panjang prosesnya. Pedumnya dalam proses pembuatan, agar segera dapat diwujudukan dan menjadi panduan dalam pengelolaan hasil inovasi Badan Litbang. Sehingga riset dan bisnis bisa sejalan sejalan. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke kandang Ruminansia. (AKS/Humas)

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com