Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Logo Statistik
LPSE
Wbs
Sms center
Karantina
Jitv
Wartazoa
PPID
logo ditjenak

Produk Teknologi

Nutrisi untuk Ayam Dalam Telur PDF Cetak E-mail
Jumat, 10 April 2020 20:35

Pemberian nutrisi sejak ayam masih dalam telur antara lain meningkatkan pertumbuhan tulang.

Selama ini peternak ayam memberikan nutrisi setelah telur menetas. Namun, Rantan Krisnan dan Astu Unadi justru memberikan nutrisi bahkan sebelum telur menetas. “Kemungkinan pertumbuhan ayam lebih optimal pasti lebih tinggi karena dia punya nutrisi duluan,” kata Rantan, periset di Balai Penelitian Peternakan. Sementara  itu  Dr.  Ir.  Astu   Unadi   periset ahli perekayasa utama bidang mesin untuk otomatisasi di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan).

Kedua periset itu berkolaborasi dan menciptakan mesin injeksi nutrisi pada telur unggas. Alat itu diberi nama In Ovo Feeding (IOF) atau alat injeksi nutrien telur tetas otomatis. Mesin itu sekaligus untuk mendukung program pelarangan antibiotik karena membahayakan konsumen. Oleh karena itu, peran antibiotik tidak lagi dibutuhkan karena nutisi ayam tercukupi sejak dini.

Injeksi dengan sensor

Menurut Rantan pemilihan nutrisi yang akan diinjeksi ke telur tidak sembarangan. Tentu telah melalui beberapa tahap pengujian salah satunya adalah tingkat kelarutan dalam larutan fisiologis. “Karena injeksi ditujukan pada amnion atau placenta jadi harus larut supaya bisa bereaksi,” kata mahasiswa program doktor Ilmu Nutrisi Pakan, Institut Pertanian Bogor itu.

Seluruh alat injeksi dilengkapi dengan sensor sehingga kekeliruan akan terminimalisir. Nutrisi yang diinjeksi merupakan kombinasi salah satu asam organik dan mineral esensial. Tujuan penambahan nutrisi meningkatkan efisiensi pakan, peningkatan respons imun, mempercepat penyempurnaan proses pencernaan, menurunkan potensi mortalitas setelah menetas, dan menurunkan potensi penyimpangan pertumbuhan tulang ayam.

Volume nutrisi yang diinjeksi 0,5 ml per butir. Jarum berbahan baja nirkarat menginjeksi nutrisi dengan kedalaman 0,8—0,9 mm dari permukaan telur. Diameter jarum hanya 0,9 mm atau biasa disebut jarum 20 G. Bila diameter jarum terlalu besar khawatir telur rusak atau pecah. “Satu kali proses injeksi atau setara dengan 30 butir telur hanya memakan waktu 20—30 detik. Akan sangat efisien bila bisa dimanfaatkan industri day old chick,” kata Astu.

Menurut doktor alumnus Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Melbourne, Australia, itu alat bekerja secara otomatis. Sumber energi berasal dari arus listrik. Dalam satu jam mesin itu mampu menginjeksi 3.600—5.400 telur. Sangat efisien dibandingkan dengan injeksi nutrisi secara manual. Telur-telur di nampan yang berkapasitas 30 butir harus seragam ukurannya.

Bila ada yang berbeda signifikan, khawatir proses injeksi tidak optimal dan mengakibatkan telur rusak. Telur yang diinjeksi adalah berusia 18 hari sebelum masa inkubasi. Ketika proses injeksi telur akan bergeser secara otomatis. Menurut Astu selama ini 70—80% biaya produksi habis hanya untuk biaya pakan. Padahal, pertumbuhan kurang bagus. Hasilnya para produsen DOC merugi. Astu berharap adanya mesin IOF mendorong pasokan nutrisi pada bibit-bibit ayam atau unggas untuk menghasilkan ayam dewasa yang sehat.

Konsumsi meningkat

Perekayasaan prototipe mesin itu hanya dalam dua bulan. Menurut Astu tidak mudah merakit mesin IOF karena detail-detail sensor yang rumit dan spesifik. Bila diperkirakan, harga mesin IOF tergolong murah tidak mencapai Rp100 juta. Bahan-bahan yang digunakan berupa food grade. Artinya bahan-bahan yang dikhususkan untuk bahan makanan sehingga tidak akan berbahaya bila mengenai bahan konsumsi.

Pria kelahiran 25 Oktober 1956 itu berharap peternak dapat memanfaatkan secara massal. Perkembangannya juga diharapkan tidak berhenti sampai di situ. “Ke depan mesin  harus lebih fleksibel, tidak perlu ada proses penyeragaman ukuran sehingga lebih efisien dan dapat diperuntukkan lebih banyak jenis telur unggas,” kata pria pria kelahiran 25 Oktober 1956 itu. Rekayasa mesin itu sekaligus untuk peningkatan produktivitas unggas khususnya peternakan ayam.


Menurut Badan Pusat  Statistik  (BPS)  pada 2018 konsumsi  daging  ayam  buras atau kampung meningkat 24,9% setara 156 gram dari tahun sebelumnya. Konsumsi ayam ras juga melonjak 11,2%  setara  573  gram.  Itu menunjukkan permintaan daging ayam di Indonesia berpotensi meningkat. Menjawab tantangan itu Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi bekerja sama dengan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) menciptakan mesin injeksi nutrisi pada unggas. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Sumber: TRUBUS - 605 April 2020/LI

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com