Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Karantina
Wartazoa
Sms center
PPID
Wbs
LPSE
logo ditjenak
Jitv
Logo Statistik

Produk Teknologi

Kisah Sukses Kampung Domba Terpadu PDF Cetak E-mail
Kamis, 22 Desember 2011 16:17

Profil Lokasi

Kampung Domba Terpadu (KDT) berada di kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kelurahan Juhut yang digolongkan sebagai desa “swasembada” berada di kawasan hutan lindung lereng Gunung Karang dengan ketinggian 250-700m diatas permukaan laut, luas 387 ha, dibagi kedalam 6 RW/28 RT, 1383 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 6191 orang. Sebagian besar wilayah bertopografi miring/lereng, dengan curah hujan sekitar 2000 mm/tahun, dengan iklim tipe B1 (klasifikasi Oldeman). Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah dengan mata pencaharian penduduk 41% sebagai tukang, 24% buruh tani, 13% petani pemilik, dan selebihnya sebagai pegawai, buruh kasar, dan pedagang.

Kampung Domba Terpadu

Berdasarkan profil kelurahan Juhut diatas, maka Tim PRA dan Pokja menetapkan pembangunan ”Kampung Domba” di kampung Cinyurup dengan pertimbangan: 1. masyarakat membutuhkan pupuk untuk tanaman sayuran; 2. masyarakat telah terbiasa memelihara domba; 3. skala usaha domba relatif kecil 1-3 ekor/peternak; 4. peternak  kekurangan bibit domba; 5. domba lokal relatif kecil dan tumbuh lambat; 6. sebaliknya, pakan berupa hijauan, limbah sayuran dan dedaunan tersedia melimpah dari usaha tani sayuran, dan dari sekitar hutan lindung yang luas. Berkenaan dengan itu, maka kampung domba dimulai di kampung Cinyurup dengan mengintroduksi domba komposit Sumatera dari hasil program pemuliaan Balai Penelitian Ternak (Balitnak) pada awal tahun 2009. Setelah itu, beberapa lembaga pemerintah dan swasta termasuk Bank Indonesia Serang turut membantu dengan menginvestasikan ternak domba kepada para peternak di Cinyurup. Pada bulan Pebruari 2009 tercatat sebanyak 397 ekor domba merupakan investasi lembaga pemerintah dan 96 dari pihak swasta. Berkenaan dengan itu, Balitnak kemudian menambah jumlah dan jenis bibit domba komposit yaitu: domba komposit Garut, Barbados Cross, dan domba St. Croix baik betina maupun jantan. Disamping ternak domba, tanaman hijauan pakan ternak berupa rumput dan leguminosa diintroduksi oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten, dan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Banten bekerjasama dengan BPTP mendayagunakan talas lokal yang dikenal sebagai ”Beneng” dengan perbaikan budidaya dan pengolahannya menjadi berbagai jenis pangan. Sejak saat itu, disepakati lokasi pengembangan berganti nama menjadi ”Kampung Domba Terpadu”, satu kampung domba yang berintegrasi dengan tanaman sayuran, tanaman pangan dan talas beneng. Pupuk kandang digunakan untuk memupuk tanaman sayuran, tanaman pangan dan beneng, serta sebaliknya limbah sayuran dan tanaman pangan dapat digunakan sebagai pakan domba.

Keragaan Pertanian dan Peternakan

Sebagian besar wilayah kelurahan (76%) dimanfaatkan sebagai ladang dengan tanaman sayuran (caisin, wortel, tomat) dan tanaman perkebunan (cengkeh, kopi, apokat).  Sayur-sayuran umumnya ditanam di dataran tinggi seperti kampung Cinyurup, dan tanaman perkebunan berkembang merata diseluruh wilayah; padi pada umumnya diusahakan di dataran rendah kelurahan. Tanaman pangan seperti jagung, kacang tanah, buncis, ubijalar, ubi kayu, dlll. menyebar diseluruh wilayah termasuk di dataran tinggi. Ternak domba dipelihara di seluruh wilayah akan tetapi populasi domba paling banyak terdapat di dataran tinggi kampung Cinyurup, mungkin karena ketersediaan pakan berupa rumput dan dedaunan dari tanaman hutan lainnya tersedia cukup melimpah. Hasil Participatory Rural Appraisal (Balitnak 2009) menunjukkan bahwa ternak domba diberi enam macam rerumputan, dan tiga jenis leguminosa pohon yaitu kaliandra, sengon/jengjen dan gamal yang semuanya tersedia dari wilayah hutan lindung. Penduduk memperoleh pakan ternak dan kayu bakar dari wilayah hutan lindung bagian barat dan utara yang terletak lebih tinggi dari kampung Cinyurup.

Integrasi Ternak Domba dengan Sayuran dan Tanaman Pangan.

Ternak domba bagi peternak di Kampung Cinyurup memainkan peran ganda yaitu sebagai tabungan untuk peternak dan juga sebagai sumber pupuk organik untuk tanaman sayuran dan tanaman pangan. Oleh karena itu, peternak sudah sejak dulu membangun kandang sekitar 75 cm diatas tanah agar pupuk jatuh dan dengan mudah dapat dikumpulkan dan digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman sayuran dan tanaman pangan. Integrasi antara tanaman sayuran dengan ternak domba ini memberi peluang besar bagi kampung Cinyurup untuk memproduksi sayuran organik, tanpa membeli dan menggunakan pupuk buatan. Sisa sayuran maupun tanaman pangan seperti jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami ubi jalar, ubi kayu, dan wortel digunakan sebagai pakan ternak. Pada awal tahun 2009, skala pemilikan domba berkisar antara 1-3 ekor domba lokal dengan ukuran kecil dan pertumbuhan relatif lambat. Penyediaan jantan kurang mencukupi kebutuhan sehingga ”lambing interval” cukup panjang yaitu sekitar 10-12 bulan. Umumnya ternak domba dikandangkan dan sesekali dikeluarkan/diangon sebentar. Peternak domba kekurangan bibit bakalan yang kadang-kadang dibeli dari luar kelurahan/kecamatan. Bahkan kecamatan Menes yang cukup dekat dari Kecamatan Karang Tanjung membeli bibit bakalan dari luar provisnsi yaitu dari Garut, Jawa Barat.

Introduksi Teknologi dan Budidaya Ternak Domba

Teknologi yang diintroduksikan di KTD adalah 1. Bibit domba komposit unggul, 2. Teknologi breeding-sistem perkawinan, 3. teknologi reproduksi – sinkronisasi berahi, 4 teknologi pakan, 5. teknologi penanaman hijauan pakan ternak, 6. teknik recording, 7.  teknik perkandangan serta 8. pemanfatan pupuk organik.  Ternak domba dipelihara dengan sistem ”cut and carry” di dalam kandang yang terbuat dari lantai, dinding, dan tempat pakan terbuat dari papan afkir, dengan atap genteng atau rumbia. Domba yang dipelihara pada umumnya domba lokal dan silangannya dengan domba garut. Ternak domba lokal tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan domba unggul hasil persilangan Baitnak. Balitnak menghasilkan empat domba unggul yaitu: domba komposit Sumatera, domba komposit Garut, Barbados Cross, dan domba St. Croix, dan keempat domba unggul tersebut telah diintroduksikan ke kampung Cinyurup. Dengan demikian, maka kampung Cinyurup adalah satu-satunya kampung di Indonesia yang memiliki empat domba unggul tersebut. Perkembangan domba unggul tersebut serta hasil silangannya sangat dominan dibandingkan dengan domba lokal pada sistem pemeliharaan dan pemberian pakan yang sama.

Kandang dibagi menjadi kandang pejantan, kandang induk, kandang induk dengan anak, dan kandang anak. Dengan demikian maka, pengawasan perkembangan dan perkawinan domba dapat lebih terkontrol. Telah diperkenalkan sistem recording yang baik dan terus didampingi oleh Disnak keswan dan BPTP untuk penerapannya. Pakan domba diberikan dari pakan lokal yang tersedia, terutama rumput lapang antara 60-80%, leguminosa sekitar 20-40%, dan limbah pertanian, tanpa pemberian pakan konsentrat sebagai sumber energi , dan mineral. Formula pakan ini tidak ideal akan tetapi ternyata operasional dengan perkembangan domba yang cukup baik terutama jika dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan populasi ternak domba.

Organisasi dan Perkembangan Populasi Ternak

Pada akhir tahun 2008 telah terbentuk Kelompok Kerja (Pokja) yang dipimpin oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pandeglang dengan anggota: Balitnak, BPTP Banten, BP3KH,  Dinas Peratian dan Perkebunan, dinas kehutanan, Perhutani, dan LSM Kopling. Semua bantuan dan investasi ternak domba ke Kelurahan Juhut harus seijin Ketua Pokja. Masing-masing lembaga melakukan perannya sesuai tupoksinya masing-masing. Balitnak sebagai sumber inovasi teknologi termasuk perencanaan dan pelatihan peternak, BPTP sebagai pendampingan dan pengawalan implementasi teknologi, dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, pengaturan bantuan domba, pengawalan, monitoring, pencatatan, pelaporan,  bantuan teknis dan pembinaan kelembagaan. Oleh karena itu semua bantuan ternak domba ke kelurahan Juhut dibuat dokumen perjanjian kerja sama antara pemberi bantuan dengan Ketua Pokja. Sampai Pebruari 2011,  jumlah pemberi bantuan/investor sebanyak 11 lembaga yaitu: Distanak prov. Banten, Balitnak, BP3KH, Disnak keswan Pandeglang, Dinas Perkebunan prov. Banten, Distanbun, CSR Bank Indonesia, Wamentan, Ditjen Peternakan, dan SMD dengan total bantuan domba sebanyak 493 ekor. Bantuan tersebut diberikan mulai pada tahun 2008, 2009, 2010, dan 2011. Populasi domba per Pebruari 2011 tercatat sebanyak 1.037 ekor ditambah dengan penjualan yang tidak tercatat, baik yang dijual dengan membuka saung pada waktu “Idul adha” maupun pada saat tengkulak domba datang ke kampung Cinyurup; sebagian domba juga digunakan untuk pengembalian/perguliran.   Populasi domba meningkat menjadi sekitar 1200 pada bulan Mei 2011. Peningkatan perkembangan populasi ini masih dapat ditingkatkan dengan upaya memperpendek “lambing interval” melalui pendampingan yang lebih intensif. Sebagian besar bantuan domba pada tahap pertama telah dikembalikan oleh kooperator ke Disnak keswan dan kemudian digulirkan kembali ke kampung Balengendong yang bersebelahan dengan Kampung Cinyurup, kelurahan Juhut.

Setiap peternak kooperator yang menerima satu induk berkewajiban mengembalikan dua ekor domba dewasa, dan seekor pejantan akan mengembalikan seekor domba dewasa dalam jangka waktu tiga tahun, dan setelah itu domba bantuan akan menjadi milik peternak kooperator.

Target skala usaha adalah tiap peternak memelihara 8 ekor induk dan 1 ekor pejantan sebagai pemacek. Target tersebut berdasakan pertimbangan Laju Reproduksi Induk (LRI) yang menggambarkan jumlah anak dilahirkan/induk/tahun adalah 2 ekor, maka dengan 8 ekor induk per tahun dapat menghasilkan anak 16 ekor; apabila jarak beranak (lambing interval) dicapai 8 bulan (3 bulan masa kosong dan 5 bulan bunting) sehingga akan diperoleh anak 16 ekor/tahun. Apablila target lambing interval tidak dapat dicapai dalam 8 bulan, maka target minimal 12 ekor anak dapat tercapai, sehingga tiap bulan peternak mampu menjual 1 ekor anak. Dengan harga sekitar Rp. 500.000,--Rp. 700.000,-/ekor (tergantung bangsa domba yang dijual), maka target pendapatan 50 persen UMR (Rp. 490.000) dapat dipenuhi. Pada tahun 2009, skala usaha sekitar 2 induk/peternak, 2011 sekitar 4 induk/peternak dan diharapkan skala usaha 8 induk + 1 pejantan/ peternak dapat dicapai pada tahun 2013.  Dengan demikian, peternak harus menyiapkan kapasitas tampung kandang 28-30 ekor dengan berbagai umur domba. Target tersebut dibuat bertahap sehingga peternak gampang mencapainya. Untuk mendukung pencapaian skala usaha tersebut, maka Balitnak telah mengintroduksikan teknologi sinkronisai berahi dan diharapkan pada bulan Oktober 2011, akan lahir sekitar 100 ekor anak domba dari hasil program sinkronisasi tersebut.

Sistem Pemasaran Ternak Domba

Kelompok peternak secara rutin membuka saung ternak dipinggir jalan Pandeglang-Serang pada perayaan “Idul adha”. Pemasaran domba juga dilakukan pada saat tengkulak datang membeli domba ke kampung. Penetapan harga masih berdasarkan taksiran tanpa menggunakan timbangan. Diperoleh informasi, bahwa domba introduksi, baik domba komposit maupun silangannya dengan domba lokal diberi harga lebih tinggi dibandingkan dengan domba lokal. Secara umum, seekor domba dengan berat sekitar 25 kg dijual dengan harga sekitar Rp. 500-600 ribu. Semestinya penjualan domba komposit murni dijual dengan harga hampir dua kali lipat dari domba lokal yang biasanya dipelihara untuk penggemukan. Dengan perkembangan populasi domba di Cinyurup dan juga di kampung Balengendong yang cukup cepat, maka disnak keswan kabupaten Pandeglang sebaiknya merencanakan pembangunan pasar hewan di sekitar kota Pandeglang. Dengan demikian maka informasi harga domba di pasar tersebut dapat dijadikan sebagai patokan harga oleh para peternak domba.

Kelayakan Investasi.

Bank Indonesia Serang telah mengkaji kelayakan usaha ternak domba di KTD pada tahun 2011 dan menyatakan bahwa KTD menguntungkan secara finansial dan layak untuk dibiyai oleh perbankan. Hasil kajian telah di paparkan oleh Bank Indonesia di kantor Bupati Kabupaten Pendeglang dengan hasil kajian nilai Internal Rate Of Return (IRR) sebesar 34 persen, yang menunjukkan bahwa investasi yang ditanamkan dalam usaha ternak tersebut masih layak pada tingkat bunga Bank 34 persen. Bunga bank saat ini hanya mencapai 12 persen. Maka dari itu, replikasi kampung ternak dengan kucuran dana CSR Bank Indonesia, atas rekomendasi Dinas Peternakan sebagai avalist sangat memungkinkan dalam program pengembangan wilayah pada sub-sektor peternakan domba di wilayah kelurahan Juhut atau kelurahan lain yang memiliki potensi yang sama di daerah tersebut. Walaupun demikian, kelompok Peternak pada saat ini masih belum merasa perlu dibantu oleh perbankan karena sudah nyaman dengan sistem kerjasama yang diterapkan sekarang. Bahkan Disnak keswan menolak banyak pihak yang ingin menanamkan modalnya di KDT Juhut karena ingin membina para peternak secara bertahap dan berkelanjutan.

Pengembangan KDT Sebagai Laboratorium Lapang Badan Litbang Pertanian

KDT ke depan akan dikembangkan sebagai  Laboratorium Lapang Badan Litbangtan dengan berbagai komoditas unggulan Badan Litbang Pertanian seperti ternak, tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, dapat diuji lapang atau diintroduksikan di lahan petani Kampung Domba Terpadu. Dengan demikian, pemilikan lahan yang luasnya hanya 0,25 ha/RT dapat dikelola dengan baik dan berhasil guna bagi masyarakat pedesaan. Berkenaan dengan rencana tersebut maka perlu dirancang suatu “grand design” KDT dengan tetap meperhatikan aspek konservasi air, lahan dan lingkungan termasuk kelestarian hutan. Pada tahap awal dipandang perlu: menyelenggarakan seminar Konsep dan Proses Pembentukan Kampung Domba Terpadu sebagai “laboratorium Lapang Badan Litbangtan, yang dihadiri oleh berbagai UK/UPT lingkup Badan Libang Pertanian. Selanjutnya membentuk Tim Laboratorium Lapang Badan Litbang Pertanian KDT (atas ijin Kepala Badan Litbang Pertanian) yang bertanggungjawab menyusun “grand design” KDT tersebut. Perlu dicatat bahwa KDT juga akan dirancang untuk menjadi agrowisata yang asri, menguntungkan, dan berkelanjutan. Seorang ahli dari negeri Belanda dibawah organisasi PUM akan datang pada bulan Oktober 2011 untuk membantu perencanaan konservasi air, lahan, dan lingkungan yang akan tinggal di Pandeglang/Serang selama dua minggu.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com