Teknologi Hasil Penelitian

Balitnak sebagai lembaga penelitian output yang diharapkan tentunya adalah teknologi-teknologi terbaru dibidang peternakan yang bisa segera dimanfaatkan oleh petani/ peternak. Beberapa teknologi hasil penelitian bahkan sudah tersebar dan dimanfaatkan oleh peternak diberbagai daerah di Indonesia. Beberapa teknologi hasil penelitian Balitnak diantaranya :

1. Domba Komposit Sumatera

Inventor  :  Subandriyo, Bess Tiesnamurti, Bambang Setiadi, Dwi Yulistiani dan Wisri Puastuti.
Domba Komposit Sumatera adalah domba unggul hasil persilangan antara bibit domba lokal Sumatera denan bibit domba St. Croix asala Virgin Islands, Amerika Serikat dan Domba Barbados Blackbelly asal barbados Islands. Penelitian pembentukan domba Komposit Sumatera telahberlangsung dua dekade lebih hingga menghasilkan domba yang dapat dikembangkan dalam kondisi pemeliharaan semi intensif.

Jenis domba ini memiliki ciri berupa pola warna bulu neragam seperti putih, coklat, belang atau ada yang berpola warna Barbados Blackbelly. Ada beberapa keunggulan domba komposit Sumatera, misalnya mapu neradaptasi pada lingkungan tropis dan lembab. Selain itu, domba komposit Sumatera juga memilikisiklus reproduksi sepanjang tahun, pertumbuhan yang baik (101 gram/ hari) hingga memiliki jumlah anak sekelahiran sama dengan domba lokal, poulasinya saat ini sekitar 23.000 ekor dan menyebar terutama di propinsi Sumatera Utara, NAD, Riau, Banten dan Jawa Tengah. Status domba ini, telah dikerjasamakan dengan pihak perkebunan kelapa hibrida, kelapa sawit, karet dan koperasi Wirasmadaya.

Keunggulan Domba Komposit Sumatera
Bobot Lahir
Birth Weight
2,2 Kg
Bobot Sapih
Weining Weight
10,3 Kg

Bobot 18 minggu
Weight at 18 weeks

22,0 Kg

Umur beranak pertama
First bearing age

18 bulan / month

Jumlah anak sekelahiran
Number of offspring in a birth

1,5
Image

2. Domba Komposit Garut

Inventor  :  Ismeth Inounu, B. Tiesnamurti dan E. Handiwirawan..

Domba komposit Garut, merupakan hasil persilangan 25% domba Moulton Charolais, 25% domba St. Croix, dan 50% domba Lokal Garut.

Keunggulan daro domba Komposit Garut adalah meiliki daya adaptasi lebih tinggi didaerah tropis dan memiliki pertumbuhan lebih cepat. Selain itu domba komposit Garut mempunyai jumlah anak sekelahiran samadengan domba lokal dan mampu mlahirkan sepanjang tahun.

Image

3. Ayam KUB

Inventor  :  Tike Sartika, Benny Gunawan, Desmayati Zainuddin, Sofjan Iskandar, Hetty Resnawati.

Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) merupakan ayam kampung terseleksi berproduksi tinggi penghasil telur. Ayam KUB memiliki warna bulu beragam, dengan bobot badan mencapai 1.200-1.600 gram dengan bobot telur antara 35-45 gram, bertelur pada umur pertama bertelur lebih awal yaitu 175 hari (21-25 mg) dengan puncak produksi telur 65%.

Ayam KUB memiliki keunggulan diantaranya memilki produktivitas telur lebih tinggi (130-160 btr/ekor/tahun), dengan produksi telur (henday) 65% serta tahan terhadap penyakit

Secara komersial ayam KUB berpotensi untuk dikembangkan oleh pelaku peternakan ayam kampung petelur.

Image

4. Itik Master

Inventor  :  L. Hardi Prasetyo, {ius P. Ketaren, Argono R. Setioko, Triana Susanti.

Itik Master merupakan hasil persilangan antara itik Mojosari dengan itik Alabio yang terseleksi.

Keunggulan dari itik Master adalah saat umur pertama bertelur lebih cepat sehingga produktivitas telur lebih tinggi. Selain itu produksi telur lebih konsisten dan pertumbuhan itik Master lebih cepat. Anak itik pejantan dapat dibesarkan menjadi itik pedaging.

Image

5. Probion

Inventor  :  Budi Haryanto.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: S 00200100219

Probion adalah bahan pakan additif ternak yang dapat digunakan secara langsung sebagai campuran pakan konsentrat atau untuk meningkatkan kualitas jerami padi melalui proses fermentasi. Probion merupakan konsorsia mikroba dari rumen ternak ruminansia yang diperkaya dengan mineral esensial untuk pertumbuhan mikroba tersebut. Bentuk fisik Probion adalah berupa serbuk sehingga dapat disimpan dalam jangkka waktu lama. Penggunaan Probion sebagai campuran pakan konsentrat sebanyak 0,5% atau digunakan dalam proses fermentasi jerami padi dengan takaran 2,5 kg probion dan 2,5 kg urea untuk setiap ton jerami padi.

Teknologi probion dapat meningkatkan kandungan protein jerami padi 2 kali lebih besar dan mempunyai nilai kecernaan serat (NDF) lebih tinggi. Mampu meningkatkan bobot ternak 10% dalam kurun waktu yang relatif pendek. Menurunkan biaya produksi sehingga akan meningkatkan keuntungan.

Potensial dikomersialkan untuk industri pakan dalam produksi berserat untuk ternak ruminansia terutama pada sentra produksi padi. Peluang komersial meningkat bila dipadukan dalam sistem padi-ternak.
Image

6. Probiotik Bioplus

Inventor  :  M. Winugroho, Y. Widiawati, Sri Marjati.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: P 20010039

 

Probiotik Bioplus adalah campuran mikroba rumen non-pathogen yaitu bakteri pencerna serat (populasi 109/gr) dan fungsi pencerna (populasi 105/gr). Probiotik bioplus diperoleh dari berbagai ternak ruminansia dan monogastrik, yang kemudian ditransfer ke ternak lain. Pemberian bioplus bertujuan memperbaiki produktivitas khususnya dalam efisiensi pemanfaatan pakan kualitas rendah.

Bioplus memiliki keunggulan dapat berfungsi meningkatkan efisiensi penggunaan dan daya cerna pakan kualitas rendah, kesehatan ternak, memacu pertumbuhan ternak, mencegah penurunan bobot badan saat kemarau dimana kualitas pakan menjadi sangat jelek tidak segar, menambah skor kondisi tubuh induk, meningkatkan nisbah konsumsi pakan, dengan teknologi ini tidak diperlukan lagi bahan-bahan sintetis seperti antibiotik atau hormon pertumbuhan, serta tidak menimbulkan residu dalam jaringan ternak.

Potensial dikembangkan untuk agroindustri pakan pada sentra-sentra peternakan yang mempunyai bahan baku pakan kualitas rendah dan atau pada saat kemarau sebagai cadangan pakan.

 

Image

7. Probiotik Receptalum

Inventor  :  M. Winugroho

Status Perlindungan HKI :

Paten No: P 00200400359

 

Probiotik Receptalum terbuat dari dasar bunga matahari yang dikeringkan kemudian dibuat tepung. Merupakan pakan additif untuk mengurangi mastitis sub-klinis sebagai penyebab utama penurunan produksi susu sapi di Indonesia. Pemberiannya pada sapi perah dikombinasikan dengan probiotik bioplus.

Keunggulan antara lain bila dikombinasikan dengan probiotik bioplus dapat menurunkan secara drastis SCC (Somatic Cell Count), yaitu suatu indikator yang menunjukan banyaknya bakteri penyebab mastitis, dai 1,6 x 106 menjadi 8,9 x 103 sel/ ml susu. Receptalum dapat berfungsi sebagai pengganti antibiotik., tidak menimbulkan residu pada susu, susu yang dihasilkan bebas bakteri pathogen, meningkatkan kesehatan ternak dan memperbaiki jarak beranak serta meningkatkan pendapatan petani peternak.

Teknologi ini berpotensial untuk menekan kasus mastitis ternak di Indonesiayang masih tinggi dan mengurangi impor susu dan dapat dikembangkan oleh agroindustri ternak susu dan budidaya bunga matahari.
Image

8. Probiotik Rater

Probiotik Rater

Inventor  :  Sukardi Hastono, M. Winugroho dan Ayi Ratnaningsih.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: P 00200500591

Probiotik Rater diformulasikan dari ragi tape Saccharomyces cerevisiae yang digunakan sebagai makanan tambahan bagi ternak ruminansia. Saccharomyces cerevisiae merupakan ragi lokal yang digunakan sebagai sumber protein utama Protein Sel Tunggal (PST) untuk pakan ternak.

Probiotik Rater berbentuk serbuk halus warna putih dan berbau khas tape ini dapat meningkatkan efisiensi daya cerna pakan dan keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan ruminansia, meningkatkan efisiensi pakan konsentrat dan bersinergi positifapabila pemberiannya dikombinasi dengan probiotik Bioplus.

Potensial dikembangkan secara komersial untuk agroindustri pakan pada sentra-sentra peternakan ruminansia karena dapat memberikan keuntungan ganda bagi industri peternakan (skala kecil/ besar).

 

Image

9. Bioavian

Bioavian

Pakan Aditif Unggas

Inventor  :  I Putu Kompiang.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: P 00200500590

 

Bioavian merupakan konsorsia mikroba hidup Bacillus apiarius dan Bacillus coagulans, digunakan sebagai pakan tambahan (aditif) pada ransum ternak unggas.

Teknologi Bioavian ini memiliki keunggulan dapat meningkatkan produktivitas unggas, terlepas dari ketergantungan penggunaan “growth promotor antibiotics” (GPA) ramah lingkungan karena bebas antibiotik dan dapat menurunkan kadar kolesterol dalam daging maupun telur. Teknologi ini juga dapat meningkatkan kinerja ternak unggas agar dapat diperoleh produk unggas yang sehat, bebas antibiotik dan hormon. Bioavian berpotensi dikembangkan komersial oleh industri pakan ternak.

 

Image

10. Cassapro

Inventor  :  I Putu Kompiang.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: S 00200100018

 

 

 

Cassapro merupakan hasil rekayasa untuk meningkatkan kandungan gizi dari berbagai bahan baku pakan yang bermutu rendah (cassava, onggok, bungkil inti sawit) dengan cara fermentasi sistem padat. Inokulum/ starter yang digunakan adalah kapang Aspergillus niger alami aktif. Pada fermentasi padat, tahapan gelatinasi (pengukusan) dihilangkanm, sehingga waktu proses dipersingkat, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya produksi.

Teknologi Cassapro dapat meningkatan nilai gizi (kadar protein dan energi, menurunkan kadar serat) dari bahan baku pakan yang bermutu rendahseperti limbah padatcassava. Cassapro dapat menghemat waktu, biaya produksi dan teknologinya mudah diadopsi oleh peternak kecil maupun besar.

Tknologi Cassapro potensial dikembangkan pada sentra produksi cassava dan kelapa sawit seperti melalui sinergi program Siska (Sistem Integrasi Sawit-Ternak) dengan memanfaatkan limbah padatnya sebagai bahan baku untuk dijadikan pakan bergizi tinggi

 

Image

11. Ferlawit

Inventor  :  Arnold P. Sinurat, MB. Tresnawati dan J. Darma.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: 0020249

 

 

Ferlawit merupakan substitusi pakan ternak yang berasal dari bahan lumpur sawit kering yang difermentasikan menggunakan Aspergillus niger. Proses fermentasi dilakukan secara aerob selama 3 hari dilanjutkan proses enzimatik (anaerob) selama 2 hari.

Keunggulan teknologi ferlawitini terletak pada proses fermentasi 2 tahap (aerob dan anaerob), sehingga dapat menghasilkan prosuk dengan nilai gizi dan daya cerna lebih tinggi dibanding bahan mentahnya. Selain itu ferlawit dapat diberikan sebagai pakan konsentrat sebanyak 10%. Teknologi ini menstranformasi limbah agroindustri menjadi bahan pakan ternak yang bergizi.

Peluang komersial ferlawit cukup baik bagi agroindustri pakan pada pabrik sawit maupun petani dudaerah perkebunan sawit dan dapat disinergikan pada program Siska (Sistem Integrasi Sawit-Ternak).

 

Image

12. Bioport untuk Pakan Transportasi

Inventor  :  M. Winugroho.

Status Perlindungan HKI :

Paten No: ID 0020248

 

Pakan transportasi “Bioport” untuk ternak ruminansia ini berfungsi untuk mencegah terjadinya penuunan bobot badan dan stres selama masa transportasi dari lokasi peternak ke lokasi penjualan/ pemotongan. Bioport terbuat dari 3 jenis bahan utama, yaitu: 1) cairan elektrolit yang mengandung 10 vitamin (55%), 2) bahan yang mengandung probiotik ragi lokal yaitu Saccharomyces serevisiae(25%); dan 3) bahan yang mengandung immunoglobulin yang berasal dari bubulkplostrum murni (20%).

Keunggulan atara lain bahan baku yang digunakan dari lokal yang mudah didapat, serta masing-masing mempunyai fungsi yang saling mendukung satu dengan lainnya. Elektrolit danvitamin yang ditambahkan berfungsi sebagai pengganti ion-ion tubuh, anti stress, kekebalan tubuh dan anti oksidan. Disamping itu, probiotik Saccharomycesserevisiae berfungsi untuk mempertahankan dan menstabilkan nutrient protein tubuh, sedangkan kolostrum yang mengandung immunoglobulin yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak.

Potensial dikembangkan secara komersial untuk memenuhi kebutuhan agroindustri ternak dalam mengurangi kerugian ekonomiyang timbul selama periode transportasi atau lalu lintas ternak misalnya dari tempat asal ke lokasi pemotongan.

 

Image

13. Silase kulit buah Kakao untuk Pakan

Inventor  :  Wisri Puastuti, Yeni Widiawati, Dwi Yulistiani.

Status Perlindungan HKI :

 

 

 

Silase kulit buah kakao (KBK) merupakan pakan olahan hasil fermentasi secara anaerob (tanpa oksigen) dengan penambahan sumber karbohidrat (dedak padi, tepung jagun, onggok dll).

Pakan KBK yang dibuat silase memiliki kelebihan antara lain: dapat langsung diberikan, lebih palatabel, dalam kondisi anaerob dapat disimpan dalam jangka waktu lama (daya simpan >4 bulan), tidak memerlukan proses pengeringan sehingga hemat waktu dan tenaga dan mudah diaplikasikan dilapang baik oleh peternak kecil maupun besar.

Silase KBK dapat digunakan sebagai pakan basal hingga 50% dalam ransum ruminansia (kambing, domba, sapi) atau mampu menggantikan hijauan rumput higga 100% dengan tetap diberi pakan penguat. Silase KBK selama dalam kondisi anaerob dapat dijadikan sebagai stok pakan.

 

Image

14. Bungkil Inti Sawit Pakan Sapi Perah

Inventor  :  Yeni Widiawati, Abdullah Bamualim dan I. Wayan Mathius.

 

 

 

Bungkil Inti Sawit adalah salah satu hasil ikutan dari industri pembuatan minyak kelapa sawit (CPO/ Crude Palm Oil), yang mengandung protein 14-17%, lemak 9,1-10,5%, serat kasar 12-18% dan kaya akan mineral P, Zn dan Mn. Bungkil Inti Sawit dapat digunakansebagai bahan pakan sumber protein dan energi untuk ternak ruminansia.

Penambahan Bungkil Inti Sawit kedalam ransum dapat menggantikan penggunaan bahan sumber protein yaitu bungkil kedelai dan DGDS. Formulasi konsentrat untuk sapi perah yang mengandung Bungkil Inti Sawit sampai level 50% dari bahan kering dapat menurunkan harga konsentrat sebesar 14,24% dengan kandungan protein dan energi yang sama.

Pemberian konsentrat dengan formula yang mengandung BIS 50% pada sapi perah laktasi meningkatkan kadar lemak susu dari 3,3% menjadi 4,13%. Secara fisik, warna susu menjadi lebih kuning dan lapisan lemak dibagian permukaan susu menjadi lebih tebal. Pemberian bungkil inti sawit juga meningkatkan produksi susu sebesar 21,28% dengan penurunan biaya pakan sebesar 20,24%

 

Image

15. Teknologi Biszym Meningkatkan Gizi Bungkil Inti Sawit

Inventor  :  Arnold P. Sinurat and T. Purwadaria

Teknologi Biszym adalah teknologi untuk meningkatkan nilai gizi  bungkil inti sawit melalui proses penyaringan dan penambahan enzim tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan unggas. Prosesnya sangat sederhana dan mudah dilakukan peternak.

Teknologi Biszyme dapat mengurangi cemaran cangkang hingga 50% dan meningkatkan kecernaan gizi (bahan kering, energi metabolis, kecernaan protein dan kecernaan asam amino). Produk ini aman diberikan dalam ransum petelur hingga 20%.

 

Image

16. Calopogonium Mucunoides Provenance Ciawi

Inventor  :  Bambang R. Prawiradiputra, Jan Rahman Hidayat, Acmad Fanindi, Endang Sutedi, dan Sajimin

Kalopo (Calopogonium mucunoides) provenance Ciawi merupakan hasil pemurnian dari C. Mucunoides provenance Malang dari tahun 2007 sampai dengan 2010. Keunggulan tanaman pakan sekaligus tanaman penutup tanah untuk perkebunan ini dibandingkan dengan provenance aslinya yang belum dimurnikan terletak pada daya kecambahnya yang dapat mencapai 85-90%. Dibandingkan dengan yang belum diseleksi daya kecambahnya antara 40-50%. Dengan demikian penggunaan benih per satuan luas bisa menghemat 50%. Selain itu hasil biji per tanaman meningkat dari 28 gram menjadi 63,6 gram sehingga bisa memberikan keuntungan bagi penangkar lebih dari 100%.

Di sektor perkebunan, penghematan dapat mencapai 50% atau penghematan sebesar Rp 500.000 per hektar.

Keterangan :. Kalopo sebagai penutup tanah di perkebunan (kiri atas); Tanaman kalopo penghasil benih (kanan atas); Benih kalopo yang sudah dimurnikan (kanan) dengan bobot per 100 butir 1,50 gram dibandingkan dengan benih kalopo yang belum murni dengan bobot per 100 butir 1,41 gram (Kiri bawah)

 

Image

17. Teknologi Kriopreservasi Primordial Germ Cell (Pgc) Pada Unggas

Inventor  :  A.R. Setioko, T. Kostaman dan S. Sopiana

Indonesia memiliki potensi sumberdaya plasmanutfah unggas lokal yang berlimpah, sehingga materi genetik tersebut perlu dikonservasi untuk digunakan dalam pengembangan unggas diwaktu mendatang. Konservasi plasmanutfah unggas hidup, baik secara in-situ maupun ex-situ akan sangat mahal dan beresiko kematian yang tinggi akibat penyakit seperti flu burung.

Kriopreservasi Primordial Germ Cells (PGC) yang merupakan progenitor dari sel telur dan spematozoa, adalah cara altrnatif untuk preservasi materi genetik baik pada unggas jantan maupun betina. PGC secara spesifik dapat dipanen dari darah embrio dan dapat disimpan didalam nitrogen cair seperti halnya pada sperma, ovum atau embrio pada hewan ruminansia. Teknik untuk menghasilkan ayam germlinechimeria telah dapat dilakukan dengan cara mentransfer PGC kedalam sirkuliasi darah embrio. Perkawinan antara ayam chimera jantan dan betina akan menghasilkan keturunan yang berasal seluruhnya dari donor PGC. Konservasi materi genetik plasmanutfah unggas Indonesia yang dilakukan melalui penyimpanan PGC dapat digunakan untuk pengembangan unggas dimasa mendatang.

 

Image

18. Teknologi Pembekuan Sperma Kerbau (Frozen Semen)

Inventor  :  R G Sianturi , D A Kusumaningrum dan Polmer Situmorang R G Sianturi

Sperma kerbau lebih susseptibel terhadap pembekuan bila dibanding dengan sperma sapi, sehingga diperlukan teknologi pembekuan yang berbeda dengan apa yang sudah dilakukan pada ternak sapi. Perbedaan yang didapat antara lain jenis pengencer, lama eqilibrasi dan konsentrasi glycerol yang lebih rendah. Pengencer yang digunakan ada 2 bagian, yaitu pengencer bagian A 77,6 ml  ( 11% laktosa didalam aqudes), 1 gr glukosa, 20 ml kuning telur, 2,4 ml glycerol, 100 mgr streptomeycine dan 100.000 IU, penyciline dan pengencer. Bagian B 68,4 ml  ( 11% laktosa didalam aqudes), 1 gr glukosa, 20 ml kuning telur, 11,.6 ml glycerol, 100 mgr streptomeycine dan 100.000 IU penyciline. Semen segar kerbau yang berkualitas baik ( % motility > 70%; % sperma hidup > 80 % dan % abnormal <10 %) diencerkan dengan pengencer bagian A untuk mendapatkan konsentrasi 200 juta sperma hidup/cc kemudian diikuti dengan penurunan suhu ke 50° C selama 45 menit. Selama penurunan suhu, pengencer bagian B dengan volume yang sama dengan pengencer bagian A ditambahkan 3 X sehingga total konsentrasi akhir menjadi 100 juta sperma hidup/cc. Semen didiamkan selama 2-3 jam pada suhu 5° C, kemudian dimasukkan ke straw (filling) dan dibiarkan pada suhu yang sama selama 1-2 jam sehingga total waktu equilibrasi tidak boleh kurang dari 4 jam sebelum proses pembekuan. Pembekuan dilakukan dengan meletakkan rak berisi straw 8 cm diatas permukaan nitrogen cair selama 10 menit dan kemudian dimasukkan ke LN2. Teknologi pembekuan sperma kerbau telah dilakukan di BIB Lembang, Jawa Barat, BIBD Sumut. Penggunaan semen beku telah dilakukan diberbagai tempat antara lain Provinci Banten, Jawa Barat, Riau, Kalsel, NTB dll. Penggunaan semen beku kerbau yang berkualitas akan berdampak luas terutama pada daerah2 dengan populasi kerbau yang tinggi, dengan populasi ternak jantan yang kurang. Disamping kekurangan pejantan, peternakan kerbau juga dibatasi oleh ketersediaan lahan yang terbatas sehingga perkawinan alam sulit dilakukan. Oleh karena itu IB menjadi sangat  potensial mendukung peningkatan produksi ternak kerbau untuk program bereeding (Outbreeding dan Crossbreeding) secara luas.

 

Image

19. Teknologi Semen Dingin (Chilled Semen)

Inventor  :  D A Kusumaningrum, R G Sianturi dan  Polmer Situmorang

Daya hidup spermatozoa diluar organ reproduksi pasca penampungan sangat terbatas. Untuk meningkatkan daya hidup spermatozoa tersebut maka perlu dilakukan pengawetan semen ( Semen presevation) dengan menambahkan pengencer yang berfungsi sebagai sumber makanan, penyanggah asam (Buffer capacity), crioprotectant, antibiotik yang kemudian diikuti dengan penurunan suhu. Penyimpanan semen pada suhu -196 0C (Semen beku) dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa sampai waktu hampir tidak terbatas, akan tetapi pembekuan  akan menurunkan fertilitas disamping keterbatasan LN2 pada daerah daerah tertentu. Teknologi semen dingin merupakan teknologi yang sangat sederhana dimana temperatur diturunkan dan disimpan hanya sampai suhu 5 0C saja. Semen diencerkan dengan pengencer Tris-Citrat yang mengandung 10 % V/V kuning telur dan 2,4 % V/V glycerol pada suhu 35 0C untuk mendapatkan konsentrasi 100 juta sperma/cc. Semen kemudian diturunkan suhunya ke 5 0C dimana waktu penurunan suhu dari 35 0C ke 50C selama 45 menit. Selama penurunan suhu, Tris Citrat yang mengandung 10 % V/V KT dan 5,6 % V/V glycerol dengan volume yang sama ditambahkan sehingga konsentrasi akhir menjadi 50 juta spermatozoa/cc. Semen dingin dapat disimpan pada tabung, elenmeyer atau langsung di ministraw sampai dengan 7 hari. Walaupun lama penyimpanan semen dingin masih terbatas akan tetapi keuntungan yang akan didapat dibanding semen beku antara lain peralatan yang digunakan jauh lebih sederhana, konsentrasi sperma hanya setengah dari konsentrasi yang diperlukan untuk semen beku, fertilitas dan persentase  kebuntingan yang lebih tinggi dan transportasi yang lebih mudah. Penerarapan teknologi telah digunakan di Pengalengan, KUD Tandangsari Sumedang Jawa Barat , BIBD dan BPPTP.  Ditinjau dari segi ekonomis dan kepraktisannya, diharapkan penerapan teknologi ini lebih baik bila diterapkan di BIBD dimana cakupan pelayanannya adalah regional.  Dampak  penggunaan teknologi akan mempercepat peningkatan  populasi ternak yang lebih  cepat dan murah.

 

Image

20. Teknologi Pemisahan Sperma X Dan Y (Sexing)

Inventor  :  Polmer Situmorang, D A Kusumaningrum dan R.G Sianturi

Teknologi pemisahan sperma pembawa chromosome X dan Y didasarkan perbedaan motilititas kedua jenis spermarozoa tersebut. Pemisahan menggunakan  2 kolom putih telur (PT) yaitu kolom atas ( 10 % PT) dan kolom bawah ( 30%PT) dalam pengencer Tris-Citrat mengandung 20 % V/V kuning telur dan panjang masing masing kolom 3 cm. Pertama-tama semen sampel diencerkan dengan pengencer Tris-Citrat untuk mendapatkan konsentrasi spermatozoa dibawah 500 juta/cc. Kemudian 1 ml sampel yg sudah diencerkan diletakkan diatas kolom atas (KA) dan pemisahan dilakukan selama 30 menit. Panen dilakukan dengan drainase dimana 3 ml pertama sampel berisi majoritas akan sperma pembawa chromosom Y dan 3 ml kedua sampel dengan majoritas sperma pembawa chromosom X. Masing masing sampel dicentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Kemudian supernatant dibuang dan endapan diencerkan menggunakan Tris Citrat 20 % V/V Kuning telur untuk mendapatkan konsentrasi akhir 100 juta sperma/cc. Keuntungan teknologi ini adalah mudah dilakukan dan menggunakan peralatan yang sangat sederhana sehingga mudah dan murah diterapkan dilapangan. Jenis kelahiran anak yang diinginkan dapat meningkat sebesar 30 %. Produksi semen sexing telah dilakukan di Balai Inseminasi Buatan Lembang, Jawa Barat dan telah didistribusikan/digunakan oleh beberapa KUD dan secara terbatas pada perusahaan suasta . Dampak penggunaan teknologi ini akan meningkatkan efisiensi usaha produksi ternak yang sangat luas. Dengan menggunakan sexed sperm peternak dapat mengatur jenis kelamin anak sapi yang diinginkan dimana peternak sapi perah lebih menginginan anak betina untuk penghasil susu sedang peternak sapi potong lebih menginginkan anak sapi jantan untuk pertumbuhan yang lebih baik dibanding anak betina. Untuk program nasional meningkatkan populasi yang lebih cepat dapat dilakukan dengan penambahan kelahiran anak betina

 

Image

21. Teknologi Perbanyakan Alfalfa (Medicago Sativa) Secara Vegetatif

Inventor  :  Sajimin, D.Sukmadjaja, R.Purnamaningsih dan N.D. Purwantari

Alfalfa (Medicago satva) merupakan tanaman jenis leguminosa  pakan ternak yang mempunyai kandungan protein, vitamin dan mineral yang tinggi. Tanaman Alfalfa merupakan tanaman subtropis yang telah dibudidayakan di Indonesia namun  tidak dapat menghasilkan biji  sehingga untuk perbanyakan  harus impor biji. Teknologi perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan dapat mengurangi impor biji apabila akan  diperbanyak  untuk hijauan pakan ternak. 

Teknologi perbanyakan tanaman ini memiliki keunggulan mengurangi impor biji  alfalfa apabila akan dikembangkan sebagai tanaman pakan ternak. Prinsip kerja teknologi yakni memanfaatkan formula media zat pengatur tumbuh  tunas dan perakaran untuk menghasilkan planlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemakaian kombinasi formula zat pengatur tumbuh tunas dan akar  dapat memperbanyak dari satu tunas menghasilkan lima sampai delapan tunas.

 

Image

Visitor

Today18
Yesterday24
This week67
This month289
Total8138

Visitor Info

  • IP: 10.22.11.10
  • Browser: Unknown
  • Browser Version:
  • Operating System: Unknown

Who Is Online

1
Online

12-05-2021
© 2021 Balai Penelitian Ternak. Jl. Veteran III Ciawi Tapos, Ds. Banjarwaru Kec. Ciawi Kab. Bogor - 16720.